Monday, June 14, 2010

Kaas - Willem Elschot

Kaas - Willem Elschot

No. 238
Judul : Kaas (Keju)
Penulis : Willem Elsschot
Penerjemah : Jugarie Soegiarto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Mei, 2010
Tebal : 176 hlm ; 11 cm

Kaas (Keju) adalah roman klasik pendek dari penulis Belgia, Willem Elsschot. Walau kisahnya sederhana namun roman ini termasuk salah satu roman yang mendunia. Sejak diterbitkan tahun 1933 roman ini telah berpuluh-puluh kali dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pada tahun 2008 Kaas kembali mencuri perhatian pecinta buku setelah Dick Matena, seorang ilustrator Belanda, membuat 119 ilustrasi bedasarkan buku ini dan membuatnya menjadi sebuah roman bergambar atau kini dikenal sengan isitlah novel grafis.

Lalu apa sih istimewanya novel ini? Jujur saja, saya pertama kali tertarik dengan novel ini karena covernya yang minimalis dan menarik. Berwarna kuning cerah, dengan ilustrasi lelaki bertopi membawa keju edam di kedua tangannya. Judulnya juga sangat simple "Kaas" (Keju).

Kaas menceritakan penggalan kehidupan Frans Laarmans, seorang kerani (pegawai administrasi) General Marine and Shipbuliding Company di Antwerpen. Frans adalah seorang pegawai berusia 50 tahun yang setia terhadap pekerjaannya. Selama 30 tahun ia menjalani rutinitasnya sebagai pegawai rendahan yang cakap dan tekun terutama di bidang korespondensi dan pembukuan. Kehidupannya bersama istri dan kedua anaknyapun biasa-biasa saja dan iapun sepertinya menikmati kehidupan rutinitasnya itu.

Keinginannya untuk merubah nasibnya baru muncul setelah ia mengenal Mijnheer Van Schoonbeke, orang kaya dan terpandang di Antwerp. Awalnya Schoonbe mengajaknya secara rutin untuk menghadiri pertemuan rutin dengan teman-temannya dari kalangan elite. Awalnya ia merasa minder dengan lingkungan barunya itu, ia berusaha menutupi statusnya sebagai pegawai rendahan. Untunglah tak lama kemudian datang tawaran dari kawan Schoonbeke dari perusahaan Honstra asal Amsterdam untuk menjadi pedagang keju.

Tawaran tersebut disambutnya dengan antusias. Namun Frans cukup berhati-hati untuk memulainya. Ia tak mau cepat-cepat melepaskan pekerjaannya, sehingga saat hendak memulai usahanya ini ia mengajukan cuti dari pekerjaannya. Dengan alasan sakit syaraf Frans memperoleh izin cuti selama tiga bulan dari tempatnya bekerja.

Awalnya ia bersemangat sekali dengan profesinya yang baru ini. Ia yakin bahwa dirinya akan menjadi pengusaha keju yang sukses. Apalagi keju adalah salah satu bahan makanan yang disuka semua orang, tua muda, besar kecil di kalangan orang Belanda.

Namun ternyata berjualan keju tak semudah yang ia bayangkan, apalagi ia sama sekali tak memiliki pengalaman untuk menjadi seorang wirausaha. 10.000 ton keju yang dipercayakan padanya tak juga laku-laku. Ia mulai khawatir dan gelisah.

Kegelisahannya semakin memuncak ketika ia mendapat kabar bahwa bos kejunya Mijnheer Hornsta akan datang untuk mengetahui perkembangan penjualannya. Frans menjadi panik, ia ketakutan setengah mati dan mencoba untuk bersembunyi ketika bos kejunya datang untuk menemuinya.

Walau kisahnya sederhana dan tak ada konflik yang berbelit-belit ini namun di tangan Willem Elschoot konflik yang diangkat dari peristiwa sederhana ini menjadi menarik dimana drama kehidupan akan tersaji secara lucu, sinis, sekaligus getir. Di sini Elschhot mengeksplorasi karakter Frans Leehman dengan apik sehingga pembaca bisa ikut merasakan pergolakan emosi yang dialami oleh si penjual keju ini.

Elschoot tampak pandai membangun karakter Frans secara sabar, mendetail namun tidak terkesan bertele-tele. Semua disajikan secara wajar dan tidak berlebihan. Pembaca diajak merasakan naik turunnya emosi Frans seiring dengan perkembangan usahanya. Ada kalanya pembaca dibuat optimis dengan sikap hidup Frans, namun pembaca juga dibuat gemas ketika bagaimana Frans terlalu memusingkan hal-hal kecil seperti mencari nama perusahaan, mempermasalahkan kop surat, furniture untuk kantor barunya, dan sebagainya.

Tak hanya pergulatan batin Frans yang diketengahkan Elschoot dalam karyanya ini, namun situasi sosial masyarakat Eropa di tahun 30-an lengkap dengan intrik-intrik di dunia perdagangan juga akan terungkap di novel pendek ini.

Singkat kata novel ini menarik untuk dibaca, melalui kisah Frans Leehman kita diajak mendalami perjuangan seorang tokoh sederhana untuk merubah nasibnya. Novel ini memang berakhir dengan getir namun bukan berarti membuat pembacanya pesimis. Inilah realita yang mungkin saja bisa terjadi pada siapapun. Dalam mencoba sesuatu yang baru guna meraih kehidupan yang lebih baik, kesuksesan maupun kegagalan memiliki peluang yang sama. Elschoot memilih memaparkan sisi kegagalan dari kisah yang dibangunnya ini sehingga pembaca bisa belajar dari kegagalan si penjual keju ini.

Willem Elsschot merupakan nama samaran Alfons Jozef de Ridder (1882-1960). Pria kelahiran Antwerpen, Belgia ini sempat melakukan berbagai pekerjaan sebelum akhirnya mendirikan biro iklan sambil menulis.

Pengalaman hidupnya yang berganti-ganti pekerjaan dan menjalani bisnis biro iklannya ini rupanya menjadi inspirasi karya-karyanya yang banyak mengambil tema bisnis dan kehidupan keluarga. Gaya menulisnya memiliki cirri deskripsi yang mendetail dan sedikit sinisme. Karya-karyanya yang paling terkenal adalah Lijmen (1924), Kaas (1933), Tjisp (1934), dan Het Been (1938). Willem Elscschot meninggal di Antwerpen, belgia pada 1960. Setelah kematiannya, ia menerima penggargaan sastra nasional Belgia.

Kaas adalah karya pertama Elschoot yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, hal ini merupakan proyek kerjasama antara penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan Erasmus Huis dan Erasmus Dutch Language Centre (Jakarta) dalam rangka 40 tahun lembaga kebudayaan Belanda Erasmus Huis Jakarta.

Seperti telah diungkapkan di atas, novel Kaas juga telah dibuat versi komiknya. Semoga Gramedia juga kelak akan menerjemahkan dan menerbitkan versi komiknya.

@htanzil

Untuk menikmati guratan Dick Mantena dalam mengadaptasi Kaas dalam bentuk novel grafis silahkan klik link dibawah ini :
http://www.deburen.eu/en/events/detail/willem-elsschot-kaas-a-graphic-novel-by-dick-matena

Tuesday, June 15, 2010 12:51:00 AM - Link

Click here to unsubscribe from "Resensi Buku" via cs in Google Reader. Sent using Reblinks.

Kaas - Willem Elschot

Kaas - Willem Elschot

No. 238
Judul : Kaas (Keju)
Penulis : Willem Elsschot
Penerjemah : Jugarie Soegiarto
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Mei, 2010
Tebal : 176 hlm ; 11 cm

Kaas (Keju) adalah roman klasik pendek dari penulis Belgia, Willem Elsschot. Walau kisahnya sederhana namun roman ini termasuk salah satu roman yang mendunia. Sejak diterbitkan tahun 1933 roman ini telah berpuluh-puluh kali dicetak ulang dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Pada tahun 2008 Kaas kembali mencuri perhatian pecinta buku setelah Dick Matena, seorang ilustrator Belanda, membuat 119 ilustrasi bedasarkan buku ini dan membuatnya menjadi sebuah roman bergambar atau kini dikenal sengan isitlah novel grafis.

Lalu apa sih istimewanya novel ini? Jujur saja, saya pertama kali tertarik dengan novel ini karena covernya yang minimalis dan menarik. Berwarna kuning cerah, dengan ilustrasi lelaki bertopi membawa keju edam di kedua tangannya. Judulnya juga sangat simple "Kaas" (Keju).

Kaas menceritakan penggalan kehidupan Frans Laarmans, seorang kerani (pegawai administrasi) General Marine and Shipbuliding Company di Antwerpen. Frans adalah seorang pegawai berusia 50 tahun yang setia terhadap pekerjaannya. Selama 30 tahun ia menjalani rutinitasnya sebagai pegawai rendahan yang cakap dan tekun terutama di bidang korespondensi dan pembukuan. Kehidupannya bersama istri dan kedua anaknyapun biasa-biasa saja dan iapun sepertinya menikmati kehidupan rutinitasnya itu.

Keinginannya untuk merubah nasibnya baru muncul setelah ia mengenal Mijnheer Van Schoonbeke, orang kaya dan terpandang di Antwerp. Awalnya Schoonbe mengajaknya secara rutin untuk menghadiri pertemuan rutin dengan teman-temannya dari kalangan elite. Awalnya ia merasa minder dengan lingkungan barunya itu, ia berusaha menutupi statusnya sebagai pegawai rendahan. Untunglah tak lama kemudian datang tawaran dari kawan Schoonbeke dari perusahaan Honstra asal Amsterdam untuk menjadi pedagang keju.

Tawaran tersebut disambutnya dengan antusias. Namun Frans cukup berhati-hati untuk memulainya. Ia tak mau cepat-cepat melepaskan pekerjaannya, sehingga saat hendak memulai usahanya ini ia mengajukan cuti dari pekerjaannya. Dengan alasan sakit syaraf Frans memperoleh izin cuti selama tiga bulan dari tempatnya bekerja.

Awalnya ia bersemangat sekali dengan profesinya yang baru ini. Ia yakin bahwa dirinya akan menjadi pengusaha keju yang sukses. Apalagi keju adalah salah satu bahan makanan yang disuka semua orang, tua muda, besar kecil di kalangan orang Belanda.

Namun ternyata berjualan keju tak semudah yang ia bayangkan, apalagi ia sama sekali tak memiliki pengalaman untuk menjadi seorang wirausaha. 10.000 ton keju yang dipercayakan padanya tak juga laku-laku. Ia mulai khawatir dan gelisah.

Kegelisahannya semakin memuncak ketika ia mendapat kabar bahwa bos kejunya Mijnheer Hornsta akan datang untuk mengetahui perkembangan penjualannya. Frans menjadi panik, ia ketakutan setengah mati dan mencoba untuk bersembunyi ketika bos kejunya datang untuk menemuinya.

Walau kisahnya sederhana dan tak ada konflik yang berbelit-belit ini namun di tangan Willem Elschoot konflik yang diangkat dari peristiwa sederhana ini menjadi menarik dimana drama kehidupan akan tersaji secara lucu, sinis, sekaligus getir. Di sini Elschhot mengeksplorasi karakter Frans Leehman dengan apik sehingga pembaca bisa ikut merasakan pergolakan emosi yang dialami oleh si penjual keju ini.

Elschoot tampak pandai membangun karakter Frans secara sabar, mendetail namun tidak terkesan bertele-tele. Semua disajikan secara wajar dan tidak berlebihan. Pembaca diajak merasakan naik turunnya emosi Frans seiring dengan perkembangan usahanya. Ada kalanya pembaca dibuat optimis dengan sikap hidup Frans, namun pembaca juga dibuat gemas ketika bagaimana Frans terlalu memusingkan hal-hal kecil seperti mencari nama perusahaan, mempermasalahkan kop surat, furniture untuk kantor barunya, dan sebagainya.

Tak hanya pergulatan batin Frans yang diketengahkan Elschoot dalam karyanya ini, namun situasi sosial masyarakat Eropa di tahun 30-an lengkap dengan intrik-intrik di dunia perdagangan juga akan terungkap di novel pendek ini.

Singkat kata novel ini menarik untuk dibaca, melalui kisah Frans Leehman kita diajak mendalami perjuangan seorang tokoh sederhana untuk merubah nasibnya. Novel ini memang berakhir dengan getir namun bukan berarti membuat pembacanya pesimis. Inilah realita yang mungkin saja bisa terjadi pada siapapun. Dalam mencoba sesuatu yang baru guna meraih kehidupan yang lebih baik, kesuksesan maupun kegagalan memiliki peluang yang sama. Elschoot memilih memaparkan sisi kegagalan dari kisah yang dibangunnya ini sehingga pembaca bisa belajar dari kegagalan si penjual keju ini.

Willem Elsschot merupakan nama samaran Alfons Jozef de Ridder (1882-1960). Pria kelahiran Antwerpen, Belgia ini sempat melakukan berbagai pekerjaan sebelum akhirnya mendirikan biro iklan sambil menulis.

Pengalaman hidupnya yang berganti-ganti pekerjaan dan menjalani bisnis biro iklannya ini rupanya menjadi inspirasi karya-karyanya yang banyak mengambil tema bisnis dan kehidupan keluarga. Gaya menulisnya memiliki cirri deskripsi yang mendetail dan sedikit sinisme. Karya-karyanya yang paling terkenal adalah Lijmen (1924), Kaas (1933), Tjisp (1934), dan Het Been (1938). Willem Elscschot meninggal di Antwerpen, belgia pada 1960. Setelah kematiannya, ia menerima penggargaan sastra nasional Belgia.

Kaas adalah karya pertama Elschoot yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, hal ini merupakan proyek kerjasama antara penerbit Gramedia Pustaka Utama dengan Erasmus Huis dan Erasmus Dutch Language Centre (Jakarta) dalam rangka 40 tahun lembaga kebudayaan Belanda Erasmus Huis Jakarta.

Seperti telah diungkapkan di atas, novel Kaas juga telah dibuat versi komiknya. Semoga Gramedia juga kelak akan menerjemahkan dan menerbitkan versi komiknya.

@htanzil

Untuk menikmati guratan Dick Mantena dalam mengadaptasi Kaas dalam bentuk novel grafis silahkan klik link dibawah ini :
http://www.deburen.eu/en/events/detail/willem-elsschot-kaas-a-graphic-novel-by-dick-matena

Tuesday, June 15, 2010 12:51:00 AM - Link

Click here to unsubscribe from BUKU YANG KUBACA. Sent using Reblinks.

Sunday, May 30, 2010

The Man Who Loved Books Too Much

The Man Who Loved Books Too Much

Judul : The Man Who Loved Books Too Much
Penulis : Allison Hoover Bartlett
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Penerbit : Pustaka Alvabet
Edisi : April 2010
Tebal : xvi + 282 halaman

John Gilkey, adalah seorang pecinta buku sekaligus kolektor buku-buku sastra edisi pertama, obsesi utamanya adalah memiliki edisi pertama buku-buku sastra dunia yang tertera dalam daftar 100 novel terbaik abad ke 21 versi Modern Library. Tak mudah memang untuk memperoleh buku-buku edisi pertama tersebut, apalagi buku-buku sastra terkenal di paruh pertama abad ke 21, selain langka kalaupun ada maka buku itu nilanya bisa mencapai ratusan ribu dolar.

Gilkey bukanlah seorang pengusaha kaya yang mampu membelanjakan uangnya untuk memperoleh buku-buku tersebut, ia hanyalah pegawai biasa, namun ia tak menyerah dengan keterbatasan dananya. Alih-alih mengumpulkan uang untuk membeli buku-buku langka ia bertekad untuk mencurinya ! Pilhannya untuk mencuri buku itu dilandasi oleh ketidakadilan yang dirasakannya jika dia tak sanggup memiliki buku-buku tersebut sementara orang lain bisa.

Kiprah Gilkey sebagai seorang pencuri buku membuatnya menjadi pencuri yang paling terkenal di seantero Amerika. Caranya sangat sederhana, ia tak perlu mengendap-ngendap ke berbagai toko buku antik untuk mencuri buku. Cukup dengan menggunakan nomor kartu kredit yang diperolehnya saat ia menjadi pegawai di sebuah toko pakaian mewah, Gilkey menelpon toko buku dan memesan buku yang diinginkannya. Menjelang toko tersebut tutup ia mengambil sendiri buku pesanannya dengan mengaku sebagai orang suruhan dari pemesan buku tersebut.

Di sisi yang lain, Ken Sanders, salah seorang agen buku yang juga menjadi Ketua Keamanan ABAA, (asosiasi penjual buku antik Amerika) sangat terobsesi untuk menangkap Gilkey, ia rela mengubah profesinya sebagai penjual buku antik untuk menjadi seorang bibiliodic, semacam detektif swasta yang mengkhususkan diri menangani kasus pencurian buku.

Kisah bagaimana sepak terjang John Gilkey dalam mencuri buku dan bagaimana Ken Sanders berusaha untuk menangkap Gikley inilah yang dituturkan secara menarik oleh Allison Hoover Bartlet, seorang jurnalis yang tulisan-tulisannya sering muncul di media-media terkemuka dunia seperti New York Times, Washington Post, Salon.com, dll.

Ketertarikan Allison untuk menulis kisah tentang Gilkey dan Sanders ini sendiri berawal ketika dirinya menerima bungkusan berisi sebuah buku antik berjudul "Kratuterbuch" (buku tanaman) terbitan tahun 1630. Ketertarikannya akan buku tersebut membuatnya ia mencari data mengenai asal-usul buku tersebut yang pada akhirnya menghantarnya pada kisah-kisah mengenai pencurian buku. Dalam beberapa kisah pencurian buku itulah akhirnya ia menemukan referensi mengenai Ken Sanders yang akan membawanya pada sepak terjang Gilkey si pencuri buku. Sejak itulah Allison berhasrat untuk menulis artikel tentang John Gilkey.

Apa yang dilakukan Allison tak sekedar riset pustaka belaka, namun ia juga melakukan serangkaian wawancara baik pada Ken Sanders sang detektif buku maupun pada Ginkley si pencuri buku, sehingga apa yang ditulisnya ini merupakan hasil peliputan jurnalistik yang benar-benar seimbang, mendetail, valid dan kaya akan kilasan-kilasan menarik mengenai dunia buku-buku antik.

Kepiawaian Bartelt dalam melakukan investigasi membuat karakter kedua tokoh ini benar-benar tereksplorasi dan tersaji secara gamblang. Selain mewawancarai Gilkey dan Sanders, Alisson juga melakukan wawancara dengan orang Tua Gilkey untuk mencari tahu apakah ada pengaruh keluarga dan masa lalunya yang membuat Gilkey menjadi seorang pencuri buku.

Apa yang dilakukan Allison dengan mewawancarai Ginkley hingga ke penjara dan pertemuannya yang intnes dengannya bukanlah hal yang sia-sia karena pada akhirnya Gilkey menceritakan secara blak-blakan padanya baik itu cara-cara dia mencuri buku maupun motif apa yang ada dibalik usahanya untuk mencuri buku.

Dalam bukunya ini, Allison tak sekedar menyajikan kisah dramatis bagaimana lika liku Gilkey melakukan pencurian buku atau bagaimana usaha Ken Sanders menangkapnya dan menjebloskannya ke penjara. Allison juga memasukkan kisah dirinya, bagaimana gentarnya dirinya ketika harus berhadapan dengan si pencuri buku atau dilema yang dihadapi apakah ia harus melaporkannya kepada polisi atau tidak ketika Gilkey menceritakan semua yang pernah dilakukannya.

Selain itu yang tak kalah menariknya, di buku ini akan tersaji pula berbagai hal mengenai dunia buku antik yang begitu memesona. Dalam buku ini akan terungkap harga-harga buku edisi pertama yang harganya bisa mencapai ratusan ribu dolar, bagaimana cara menilai buku antik hanya bedasarkan sentuhan dan aroma baunya, bagaimana jaket buku ternyata sangat berpengaruh pada nilai sebuah buku dan sebagainya.

Detailnya Allisson dalam memaparkan semua hasil investigasinya ini memang baik, namun bagi mereka yang tak terbiasa membacanya mungkin agak sedikit menimbulkan kejenuhan, untungnya Allisson tak terjebak dalam untuk menyajikan data-data menegnai buku-buku antik hasil investigasinya namun ia juga menyelipkan berbagai kisah para penggila buku yang sangat inspiratif.

Dalam hal perilaku para penggila buku, Allison juga menyertakan berbagai penggalan kisah tokoh-tokoh terkenal seperti Henry Huntington, pemilik The Huntington Library Museum, seorang taipan rel kereta api yang pernah membelanjakan $ 1.9 juta dalam sebuah lelang buku, lalu ada pula Thomas Jefferson Fitz, professor botani yang rumahnya dipenuhi oleh 90 ton buku koleksinya. Selain itu ada juga kisah pencuri buku Gugliemo Libri (1803-1869) seorang bangsawan Perancis yang bertugas membuat katalog buku-buku di Perpustakaan-perpustakaan Perancis yang akhirnya ketahuan telah menukar buku-buku berharga di perpustakaan dengan buku yang kurang berharga. Ketika Libri dihukum 10 tahun penjara koleksi bukunya bernilai 6500 franc atau setara dengan 1.56 juta Euro di masa kini.

Kesemua kisah-kisah tadi digambarkan Allison dengan narasi yang menarik sehingga membuat pembaca buku ini akan berdecak kagum pada kekayaan koleksi mereka dan penghargaan mereka akan buku-buku bernilai tinggi. Kesemua kisah ini bukan tak mungkin akan menjadi inspirasi bagi pembaca untuk memulai mengoleksi buku-buku yang berharga.

Secara keseluruhan , saya rasa Allison berhasil membuat sebuah karya yang menarik bagi pembacanya, ia berhasil mengundang rasa ingin tahu pembacanya akan dunia buku antik, kasus-kasus pencurian buku dan intrik-intrik dalam dunia perdagangan buku antik terungkap dengan gamblang. Selain itu, catatan kaki yang dilampirkan Allison pada buku ini juga dapat menambah wawasan pembacanya.

Dengan segala keistimewaan dari buku ini tak heran jika Library Journal menetapkan buku ini sebagai salah satu buku terbaiknya. Adapun cikal bakal buku ini yaitu artikel mengenai John Gilkey yang dibuat Allison untuk San Fracisco Magazine memperoleh penghargaan sebagai Best American Reporting 2007

Bagi seorang pecinta buku, buku ini sepertinya bisa menjadi buku yang wajib dibaca. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini juga bisa memberi inspirasi akan pentingnya mengoleksi buku, terutama buku-buku sastra edisi pertama. Selain itu buku ini juga akan membawa pembacanya pada pengenalan pertama akan dunia buku antik.

Kisah Ginkley dan Sanders dan kisah-kisah para penggila buku dalam buku ini juga pada akhirnya akan membuka mata kita bahwa kegilaan atau obsesi seseorang terhadap buku itu dapat sedemikian dahsyatnya sehingga membuat sebagian orang rela mempertaruhkan apa saja demi memiliki sebuah buku yang mereka sukai.

Dari buku ini kita juga akan melihat bahwa di negara yang telah mengenal budaya baca dan tulis lebih awal dari kita, penghargaan akan buku itu begitu tingginya. Penghormatan terhadap sebuah buku menjadikan buku-buku yang terbit puluhan hingga ratusan tahun yang lampau walau mungkin isinya tak relevan lagi tetap menjadikan buku-buku itu tetap bertahan keberadaannya dari abad ke abad.

@htanzil

Monday, May 31, 2010 5:55:00 AM - Link

Click here to unsubscribe from "Resensi Buku" via cs in Google Reader. Sent using Reblinks.